Minggu, 29 November 2020

SILATURRAHIM PESANTREN (3): PONDOK PESANTREN DARUL ISTIQOMAH BONDOWOSO

 Yayasan Pendidikan dan Sosial (YPS) El-Haq kembali mengadakan kunjungan ke salah satu Pondok Pesantren di Jawa Timur yaitu Pondok Pesantren Darul Istiqomah pada hari Rabu (25/11/20). Pondok ini didirikan pada tahun 1994 oleh KH. Masruri Abd Muhit Lc, beliau merupakan alumni Pondok Modern Darussalam Gontor dan Universitas Islam Madinah. Dengan luas kurang lebih 4 hektar, Pondok ini mampu menampung 400 santri putra dan putri di tempat yang terpisah.

Dalam kesempatan tersebut KH. Masruri menceritakan rintangan yang dihadapi ketika awal mendirikan pesantren, yaitu rintangan yang datang dari warga maupun tokoh masyarakat sekitar.

“Saya bukan asli daerah sini. Jadi waktu itu, ketika saya mau mendirikan pondok saya meminta saran dulu ke kyai-kyai di Bondowoso. Kata mereka ada dua syarat yang harus dimiliki untuk mendirikan pondok. Yang pertama dari keturunan kyai yang kharismatik dan yang kedua harus punya uang. Melihat kondisi masyarakat sekitar yang pemahaman agamanya rendah, minat belajarnya sangat sedikit sekali sehingga tekad saya semakin kuat untuk mendirikan pondok. Awal mula santri di sini tujuh orang, empat santri daerah sini dan yang lain dari luar daerah. Tantangan selama kurang lebih tiga tahun, ada orang kampung sesekali melempari batu ke pondok tapi saya biarkan saja,” tutur beliau.

Saat ini Pondok Pesantren Darul Istiqomah sudah memiliki santri yang berjumlah kurang lebih 800 santri. Dengan rincian 400 orang merupakan santri murni Pondok Pesantren Darul Istiqomah, sedangkan sisanya berasal dari beberapa pondok yang menginduk ijazahnya ke Pondok Pesantrean Darul Istiqomah.

“Pada sepuluh tahun pertama, jumlah santri disini tidak sampai seratus. Kemudian pada tahun kedua puluh, santrinya sekitar dua ratus. Alhamdulillah sekarang jumlah santrinya empat ratus santri, dengan rincian dua ratus lima puluh santri putri dan seratus lima puluh santri putra. Karena syarat dari peraturan perundang-undangan pondok yang memiliki jumlah santri tiga ratus, maka bisa mengadakan ujian pondok sendiri. Dan ijazah pondok itu, diakui negara dan bisa digunakan melanjutkan kuliah. Sekarang ada tujuh alumni dari sini, ada yang sudah mendirikan pondok sendiri, ” imbuh beliau.

Pondok Pesantren Darul istiqomah merupakan pondok yang diperhitungkan oleh pemerintah setempat. Berbagai event kejuaran yang diikuti santri berhasil meraih juara. Hal ini dikarenakan pimpinan pondok tersebut memang menyukai kegiatan olahraga dan di lingkungan pondok tersebut terdapat lapangan sepak boala, kolam renang dan lapangan basket.

“Umurku saiki wes 66 tahun, tapi aku isih seneng bal-balan. Pas onok tanding, aku ya melu. Dulu santri disini juara dua sepak bola pas ono Liga Santri Nasional. Aku dukung memang. Ada lapangan sepak bola, kolam renang dan lapangan basket juga,” ucap beliau sambil ketawa.

Ustadz Ainur Rofiq selaku pimpinan YPS El-Haq menyampaikan maksud kedatangannya ke Pondok Pesantren Darul Istiqomah.

“Alhamdulillah ustadz, kita bisa bersilaturrahmi di sini kebetulan juga saya alumni Gontor juga tahun 1986. Maksud kedatangan kami di sini untuk bersilaturrrahmi dan Insya Allah tahun depan saya nanti akan membuka Pesantren di Jombang. Saya juga pengin belajar bersama-sama, permulaan dari pendirian pesantren, sistemnya, pelaksanaannya dan masih banyak yang lainnya juga. Dan harapannya juga, kami juga meminta guru pengabdian dari sini untuk pondok kami nantinya,” ucap beliau.

KH. Masruri menyampaikan bahwa dalam mendirikan sebuah pondok harus dimulai dengan niat yang benar. Dengan adanya keinginan yang baik dan benar, segala bentuk pembangunan, pengembangan dan permasalahan akan dikembalikan kepada Allah Subhanallahu Ta’ala.

“Pengin mendirikan pondok ada satu kuncinya, yakni dimulai dari niat yang benar. Ketika saya berencana merenovasi masjid, akan tetapi uang belum ada. Saya percaya kepada Allah Dzat Yang Maha Kaya, saya minta kepada Allah. Kemudian ketika ada infaq dari warga atau wali santri yang menyumbang, saya tidak melihat dari nominalnya, namun dilihat dari besarnya perjuangan orang tersebut dalam meraih harta itu,” imbuh beliau.

Masya Allah, begitu banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari perjuangan KH. Masruri. Semoga Allah Subhanallahu ta’ala senantiasa merahmati beliau dan keluarganya, dan mudah-mudahan bisa bertemu kembali untuk bersilaturrahim dan tetap menjalin Ukhuwah Islamiyah

writer : M. Rohmad Wahyudi
editor : Hafiz El Hudzaifie
http://elhaqgenerasiqurani.sch.id/silaturrahim-pesantren-3-pondok-pesantren-darul-istiqomah-bondowoso/


Senin, 07 September 2020

KESEDERHANAAN & KESABARAN

 

KESEDERHANAAN & KESABARAN

Allah subhanallahu ta’ala menciptakan manusia berpasang-pasangan. Sebagaimana firman Allah dalam surat  Yasin ayat 36. "Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh Bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui." Dari penciptaan manusia dapat diketahui ada jenis laki-laki dan perempuan. Dari penciptaan hewan, terdapat jenis jantan dan betina. Begitupun juga dengan tumbuhan, Allah subhanallahu ta’ala menciptakan benangsari (alat kelamin jantan) dan putik (alat kelamin betina).

Kemudian di ayat lain dalam Alquran surat an-Nur ayat 26, bahwasanya Allah subhanallahu ta’ala menjodohkan hamba-Nya sesuai dengan cerminan pasangan itu sendiri. Jika seorang laki-laki menginkan perempuan yang shalihah, hendaklah ia mempersiapkan diri shalih terlebih dahulu. Jika seorang perempuan menginginkan laki-laki yang shalih, maka perempuan tersebut juga memperbaiki diri. Namun, terkadang apa yang diinginkan manusia tidak sesuai dengan kenyataannya. Jawaban atas doa yang dipanjatkan kepada Allah subhanallahu ta’ala seolah-seolah tidak adil. Sebagai seorang muslim, tentunya kewajiban ialah berdoa dan dilanjutkan ikhtiar atau usaha. Apapun hasil yang didapat tentu kewajiban sebagai seorang muslim adalah tawakal.

Alkisah ada seorang pasangan suami-istri yang hidup dalam perantauan. Keduanya meninggalkan kampung halaman guna mencari penghidupan yang lebih baik. Kondisi keuangan yang pas-pasan, tak mungkin digunakan untuk kontrak rumah. Memilih tinggal di tempat kos adalah pilihan yang terbaik untuk tempat tinggal mereka. Keduanya masih terhitung sebagai mahasiswa aktif, dan dituntut untuk membagi  waktu sebaik mungkin. Terbayang, kesibukan di pagi hari berangkat kerja, dilanjutkan sore hari berangkat kuliah dan di malam hari menyelesaikan tugas-tugas yang ada di rumah.

Tatkala sudah memiliki buah hati yang semakin cermat dalam membagi waktu disela-sela kesibukan kerja maupun kuliah. Wanita tersebut memiliki kesibukan sebagai pengajar, sedangkan laki-laki tersebut sebagai karyawan swasta di salah satu perusahaan swasta. Dengan bekal keyakinan dan niat ikhlas tujuan menikah semata-mata mengharap ridha Allah subhanallahu ta’ala.

Kesederhanaan hidup bukan gaya hidup adalah prinsipnya. Seperti contoh kecil dalam keseharian, seseorang yang beraktifitas membutuhkan kendaraan bermotor. Berbagai macam tipe maupun model sepeda motor selalu ada yang terbaru. Karena prinsip dalam rumah tangga mereka untuk hidup sederhana, mereka memakai sepeda ontel adalah pilihan yang terbaik. Godaan ataupun tawaran untuk memiliki sepeda motor dengan sistem kredit mereka abaikan, mereka lebih untuk menabung terlebih dahuu. Meskipun hasil tabungan, hanya dapat digunakan untuk membeli sepeda motor bekas. Hutang adalah ikatan yang bisa membuat seseorang tidak tenang, bahkan tidurpun tidak nyenyak. Ada perasaan nyaman dan kepuasan memiliki sepeda motor tanpa riba. Hal ini berlaku pada keinginan apapun, mereka memilih membeli dengan cara tunai. Kalaupun belum ada uang, mereka bersabar dan menabung terlebih dahulu.

Ketika anak-anak sudah sekolah, tentunya kebutuhan hidup juga semakin bertambah. Terlebih dalam pendidikan anak di pesantren atau mondok. Puluhan juta rupiah yang harus dipersiapkan saat itu, belum lagi dengan kebutuhan yang secara bersamaan. Komunikasi yang baik dalam rumah tangga baik suami maupun istri sangat dibutuhkan. Berangkat dari niat menikah, menjalin rumah tangga hanya mengharap ridha dari Allah subhanallahu ta’ala. Tidak ada  masalah yang tidak dapat diselesaiakan. Segala bentuk permasalahan selalu melibatkan Allah subhanallahu ta’la dzat pemilik dan pengatur kehidupan alam semesta. Diiringi dengan amalan-amalan yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallahu alaihi wassalam. Rajin puasa sunnah senin-kamis, shalah dhuha maupun shalat tahajud tak terlewatkan dalam kesehariannya. Kemudahan, kelancaran dalam mencari rejeki serta selalu sehat sekeluarga adalah nikmat dan karunia Allah subhanallau ta’ala.

Keinginan memiliki kendaraan roda empat, yang sebelumnya tidak pernah terfikirkan oleh keluarga tersebut. Keluh kesah meraka sampaikan, lewat do’a kepada Allah subhanallahu ta’ala. Hingga dipertemukan dengan penjual yang ramah, jujur dan dari lingkungan keluarga yang taat beragama. Tanpa disadari, itu semua adalah rizki yang Allag berikan kepada hamba-Nya. Kemudian niat untuk mendaftar haji, dapat memenuhi keinginan tersebut. Mereka berkeyakinan bahwa tidak perlu perhitungan dalam beramal, berikan yang banyak dan terbaik untuk Allah subhanallau ta’ala. In shaa Allah, Allah subhanallahu ta’ala akan membalas dengan balasan yang lebih banyak lagi. Fokus pada tujuan hidup, akhirat yang lebih diutamakan.

Lukisan kisah perjuagan hidup dari keluarga sederhana. Tidak berlebihan dalam memenuhi kebetuhan dan senantiasa bersikap. Segala bentuk permasalahan hidup, senantiasa memohon petunjuk kepada Allah subhanallahu ta’ala. Dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Selasa, 01 September 2020

Tantangan Pembelajaran Tahfidz dan Tilawah Secara Virtual di Masa Pandemi


Virus corona atau covid-19 telah menjadi ancaman di seluruh negara. Hal ini disebabkan, penyebaran virus tersebut sudah tidak dapat dikendalikan lagi. Berbagai macam sektor kehidupan mengalami dampaknya. Mulai dari sektor ekonomi, social, budaya, pariwisata maupun pendidikan. Berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk memutus rantai penyebaran tersebut, mulai dari perkantoran ditutup berganti dengan work from home (WFH), menjaga jarak dan senantiasa menjaga pola hidup bersih dengan rajin mencuci tangan.

Peran pemerintah dalam menghadapi pandemi tersebut sangat diharapkan. Seperti halnya dalam dunia pendidikan, kebijakan pemerintah untuk menekan penyebaran virus tersebut dengan meniadakan kegiatan belajar dan mengajar di sekolah. Belajar adalah kebutuhan wajib bagi siswa yang duduk di sekolah tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Anak-anak yang sebelumnya belajar di sekolah secara tatap muka (off line), saat ini berganti dengan system belajar secara virtual atau daring (dalam jaringan). Dengan demikian, berdampak juga terhadap aktifitas guru selama melaksanakan proses pembelajaran. Bagi seorang guru, proses pembelajaran secara online menjadi sebuah tantangan yang harus dilakukan. Demi masa depan anak-anak Indonesia agar tetap mendapatkan ilmu dan dapat bersaing secara tingkat nasional maupun internasional.

Pelaksanaan proses pembelajaran jarak jauh atau secara virtual tentunya dibutuhkan kerja sama yang baik antara guru dengan orang tua siswa. Sebagai orangtua diharapkan mendapingi anaknya selama di rumah. Namun, tidak semua orangtua dapat mendampingi anakanya selama proses pembelajaran di rumah, dikarenakan orangtua juga sibuk dengan pekerjaaan. Di samping itu juga, tidak semua orangtua mampu menguasai internet. Begitupun juga dengan seorang guru, tidak semua guru dapat menguasai internet yang berkembang saat ini.

Beberapa factor yang menyebabkan seseorang tidak mampu menguasai internet, antara lain :

1.    Wilayah geografis

Kondisi disetiap daerah yang ada di Indonesia beragam, ada perkotaan dan ada juga pedesaan. Kondisi di wilayah di perkotaan umumnya sudah mampu mengakses internet, sehingga masyarakat yang tinggal mampu menguasai teknologi internet. Namun, berbanding terbalik dengan masyarakat yang tinggal di pedesaan. Tidak semua masyarakat yang tinggal di pedesaan mengetahui internet, hanya sebagian saja yang dapat mengetahui dan menguasai teknologi internet.

2.    Keterbatasan biaya

Kebutuhan hidup yang harus dipenuhi tentunya membutuhkan biaya. Termasuk juga dalam kebutuhan internet, yang fungsinya dapat digunakan untuk mengakses informasi, bisnis dan mempermudahkan pekerjaan di kantor. Masyarakat yang tinggal di perkotaan tentunya membutuhkan fasilitas internet lebih besar. Namun berbeda halnya dengan masyarakat yang tinggal di pedesaan yang masih jarang menggunakan internet untuk aktifitas keseharian mereka.

3.    Gagap internet

Bagi sebagian orang ada yang belum mengetahui fungsi dari kegunaan internet. ketika mereka diminta untuk menggunakan fasilitas internet, sebagian masyarakat tidak berani bahkan takut untuk memakai fasilitas internet tersebut.

Adapun sarana dan prasarana yang ada disetiap lembaga pendidikan yang ada di Indonesia tidaklah sama. Lembaga pendidikan yang ada diperkotaan dan yang ada di pedesaan juga memiliki perbedaan. Umumnya lembaga pendidikan yang ada di perkotaan mampu menyediakan fasilitas sarana dan prasarana yang cukup, yakni termasuk adanya fasilitas internet. Akan tetapi, berbanding terbalik dengan lembaga pendidikan yang ada di pedesaan. Rata-rata masyarakat yang tinggal di pedesaan secara keseluruhan belum mengikuti perkembangan teknologi saat sekarang ini. Adanya keterbatasan baik dari Sumber Daya Manusia (SDM) mapun Sumber Daya Alam (SDA). Hal ini harus disikapi dengan bijak, karena menjadi tantangan tersendiri bagi guru, orang tua, siswa dan lembaga pendidikan selama ada pandemi tersebut.

Dalam dunia pendidikan terdapat istilah stakeholder sekolah. Secara sederhananya stakeholder sekolah adalah masyarakat sekolah yang turut aktif baik secara langsung maupun tidak langsung merencanakan, menjalankan serta mengawasi program kegiatan yang ada di sekolah. Para pemangku kepentingan yang peduli akan pendidikan baik orangtua, komite atau peran pemerintah yang terkait dengan pendidikan. Oleh karena, dibutuhkan kerja sama dan komitmen yang sungguh-sungguh untuk memajukan mutu pendidikan khususnya yang ada di Indonesia.

Kebijakan pemerintah yang mengharuskan anak-anak untuk belajar dari rumah dengan system daring. Lembaga pendidikan formal, nonformal ataupun informal juga harus mengikuti kebijakan pemerintah. Dengan adanya kebijakan pemerintah tersebut, diharapkan mampu meminimalisir korban akibat pandemi covid-19. Hal ini dikarenakan anak-anak mudah rentan, dan memiliki resiko yang tinggi terhadap penularan dan penyebaran virus tersebut. Lembaga pendidikan berupaya menyiapkan kurikulum pembelajaran, menyesuaikan situasi dan kondisi yang terjadi saat sekarang ini.

Di lembaga pendidikan yang notabene berbasis Islam, tentunya  berdiri sendiri dan mandiri di bawah naungan yayasan. Meskipun ada sebagian sekolah yang berbasis Islam di bawah naungan pemerintah. Lembaga pendidikan Islam yang bergerak secara mandiri, tentunya membutuhkan financial yang kuat. Terlebih disaat terjadi pandemic covid-19. Sekolah-sekolah Islam yang memiliki program keunggulan khususnya tilawah dan tahfidz, tidak dapat melaksanakan program unggulan tersebut secara maksimal. Ada beberapa kendala yang terjadi, ketika lembaga pendidikan Islam tidak dapat melaksnakan program unggulan tahfidz dan tilawah. Berikut ini beberapa kendala yang terjadi di lembaga pendidikan Islam, antara lain sebagai berikut :

 1.            Kejujuran

Salah satu factor kesuksesan seseorang adalah dapat dilihat dari sikap jujur. Kondisi yang terjadi akibat adanya pandemic, pembelajaran tidak dapat dilakukan secara offline atau secara tatap muka dapat dimanfaatkan oleh sebagian anak-anak. Anak yang tidak jujur memanfaatkan setoran hafalan dan tilawah dengan membawa mushaf Alquran yang diselipkan di samping handphone. Hal ini dapat dilihat pandangan atau tatapan mata ketika setoran tahfidz dan tilawah. Adapula sebagian orangtua yang memberikan bisikan halus kepada anaknya, ketika setoran hafalan dan tilawah kepada guru atau ustadznya. Yang seharusnya orangtua mendampingi dengan baik, namun bersikap sebaliknya dengan memberikan contoh sikap yang tidak baik kepada anaknya.

 2.            Koneksi atau jaringan internet

Pembelajaran dengan sistem online atau dalam jaringan (daring) memiliki kendala, salah satunya adalah factor koneksi atau jaringan internet. Termasuk juga dalam pembelajaran menyimak setoran hafalan atau tahfidz dan tilawah Alquran dengan sistem online terdapat kekurangannya. Seorang guru tidak dapat melihat secara jelas, makhorijul huruf atau tempat keluarnya huruf yang dibaca oleh anak-anak. Karena seorang guru membutuhkan penilaian yang objektif ketika menyimak setoran hafalan dan tilawah.

Kondisi wilayah atau daerah tempat tinggal anak-anak tidaklah sama. Ada yang tinggal di daerah perkotaan dan ada juga yang tinggal di daerah pedesaan. Daerah yang dapat dijangkau dengan fasilitas atau jaringan internet dapat melakukan vidiocall dengan lancar. Sebaliknya, daerah yang tidak dapat dijangkau dengan fasilitas jaringan internet tidak dapat melakukan vidiocall dengan baik. Sehingga guru tidak dapat menyimak setoran tahfidz dan tilawah dengan baik. Dan untuk daerah yang dapat dijangkau dengan fasilitas jaringan internet menentukan kualitas gambar dan suara ketika melakukan vidiocall tahfidz dan tilawah. Sehingga seorang guru dapat menyimak suara anak-anak dengan jelas.

 3.            Tugas sekolah

Terdapat beberapa mata pelajaran yang diajarkan di sekolah, di antaranya adalah berhitung, ilmu alam, ilmu sosial, keagamaan, kesenian, bahasa maupun ekstra kurikuler. Dalam kondesi pandemic, pembelajaran virtual di lembaga pendidikan Islam yang memiliki program unggulan tahfidz dan tilawah tidak dapat berjalan secara maksimal. Hal ini disebabkan, anak-anak juga harus membagi waktu untuk pembelajaran virtual atau secara online dengan mata pelajaran yang lain. Ketika kondisi normal, pembelajaran tahfidz dan mengaji dapat dilakukan pagi hari diwaktu jam sekolah. Akan tetapi disaat pandemi, jadwal pembelajaran virtual tahfidz dan mengaji hanya terbatas. Tugas mata pelajaran yang lain harus segera diselesaikan, sehingga waktu setoran tahfidz dan tilawah dilakukan seminggu dua kali bahkan seminggu sekali saja.

 4.            Waktu

Ada sebagian orangtua yang memiliki kesibukan di luar rumah. Bahkan keduanya baik ayah maupun ibu juga sama-sama sibuk bekerja. Orangtua yang sibuk dengan pekerjaan, memiliki sedikit waktu untuk mendampingi anaknya selama di rumah. Jadwal pembelajaran setoran tahfidz dan tilawah yang sudah dibagikan guru kepada anak-anak tidak terbaca di smartphone orangtua. Kondisi waktu yang diharuskan orang tua untuk menyelesaikan pekerjaan bertabrakan degan jadwal anak untuk setoran tahfidz dan tilawah. Dengan demikian, sebagai orangtua hendaklah bijak dalam menyikapi waktu belajar anak selama di rumah.

 5.            Tidak memiliki smartphone

Salah satu kebutuhan yang tidak bisa ditinggalkan adalah tidak bisa lepas dengan benda yang bernama smartphone. Sebuah benda yang berukuran kecil, yang memiliki manfaat luar biasa tatkala digunakan secara bijak. Dapat digunakan untuk mengakses informasi secara luas, untuk bisbis dan untuk penunjang dalam belajar. Dalam kondisi pandemi saat sekarang ini, smartphone menjadi kebutuhan wajib yang harus dimiliki siswa. Baik yang duduk di sekolah tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Anak-anak dan orangtua juga membutuhkan smartphone untuk mempermudahkan aktifitasnya. Akan tetapi, tidak semua orangtua memiliki smartphone sejumlah keluarga yang ada di dalam rumah. Sehingga anak-anak yang melakukan pembelajaran untuk setoran tahfidz dan tilawah harus bergantian dengan kakak ataupun dengan adiknya. Bahkan yang lebih parah lagi, orangtua tidak memiliki smartphone sama sekali.

 6.            Biaya

Kebutuhan hidup dalam keluarga beragam. Ada keluarga yang dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan sederhana, dan adapula yang memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan mewah. Apalagi disaat pandemi, kebutuhan tetap bahkan cenderung meningkat. Di sisi lain banyak pekerja yang kehilangan mata pencahariannya. Sehingga kebutuhan untuk pendidikan anak juga terganggu. Untuk pasang wifi di rumah, kuatir tidak mampu membayar biaya bulanannya. Kemudian dialokasikan untuk pembelian kuota internet smartphone, harganya juga tidak murah. Hal ini menjadi dilemma bagi sebagian orangtua, ketika tuntutan dari sekolah untuk pembelajaran tahfidz dan mengaji dilakukan secara virtual.

 

Kebijaran yang sudah ditetapkan oleh pemerintah, kemudian direalisasikan ke tiap-tiap satuan lembaga pendidikan memiliki keberagaman tingkat masalahnya. Beberapa kendala yang terjadi di lapangan tidaklah sama, antara lembaga satu dengan lembaga yang lain. Hal ini dapat dilihat dari persiapan lembaga pendidikan dalam menyediakan sarana dan prasarana untuk menunjang pembelajaran secara virtual. Harapannya, pemerintah mampu untuk memberikan solusi yang terbaik dengan adanya sistem pembelajaran secara virtual atau daring tersebut.

Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh lembaga pendidikan Islam untuk meminimalisir kendala-kendala yang terjadi selama pembelajaran virtual untuk tahfidz dan tilawah, antara lain sebagai berikut :

1.      Menyiapkan anggaran sekolah secara cermat selama adanya pandemi tersebut. Dengan mengalokasikan anggaran untuk kebutuhan yang sifatnya terlebih dahulu. Dan untuk kebutuhan sekolah yang dirasa tidak terlalu dibutuhkan dapat minimalisir. Hal ini menyangkut tarif SPP sekolah yang dibebankan kepada orangtua siswa.

2.      Menyiapkan kurikulum unggulan tahfidz dan tilawah lebih diutamakan. Hal ini sesuai dengan identitas sekolah Islam yang memiliki keunggulan di bidang agama. Kebiasaan membaca dan menghafal Alquran yang sebelumnya dilakukan setiap hari di jam sekolah, ketika ada pandemi diupayakan tetap berjalan seperti biasanya. Meskipun dengan durasi yang singkat, anak-anak dapat menjaga kebiasaan positif tersebut dengan baik.

3.      Menyediakan atau menambah fasilitas internet yang ada di lembaga sekolah. Hal ini berkaitan dengan jumlah pengguna jaringan internet. Pada awalnya kebijakan pemerintah  meminta juga kepada guru, untuk  melakukan pembelajaran virtual di rumah. Dan kebijakan tersebut berganti, dengan mengizinkan guru  saja yang boleh masuk ke sekolah. Oleh karena itu, untuk menunjang kelancaran pembelajaran virtual tahfidz dan tilawah dapat menambah fasilitas internet di sekolah.

4.      Memanfaatkan dan media sosial yang berkembang saat sekarang ini. Ada beberapa media sosial yang dapat digunakan untuk pembelajaran secara virtual, yakni dengan membuat group whattshap, telegram, facebook. Ada juga aplikasi media sosial yang lainnya seperti membuat channel youtube sekolah, instagram ataupun aplikasi zoom meeting. Dengan berkembangnya teknologi, seorang guru juga dituntut untuk mengikuti perkembangan zaman. Dengan tujuan pembelajaran yang dilakukan secara virtual tersebut dapat berjalan efektif dan efesien.

5.      Pemberian tugas-tugas sekolah diharapkan tidak terlau memberatkan anak-anak. Hal ini bertujuan agar anak-anak tidak stress ataupun jenuh dengan banyaknya tugas mata pelajaran di sekolah. Dengan komitmen lembaga pendidikan Islam, untuk tetap menjaga kualitas pembelajaran tahfidz dan tilawah anak-anak.

6.      Motivasi yang senantiasa diberikan ke anak-anak agar tetap semangat dan tak kenal lelah untuk belajar. Khususnya dalam lembaga pendidikan Islam, motivasi yang dapat diberikan ke anak-anak adalah berusaha untuk tetap istiqomah membaca, menghafal dan menjalankan isi kandungan ayat-ayat Alquran dalam kehidupan sehari-hari.

 

Tantangan dalam dunia pendidikan pasti ada dimanapun dan kapanpun. Pembelajaran secara langsung atau bertatap muka dengan sistem pembelajaran secara virtual terasa berbeda sekali. Karena belajar dengan bertemu guru secara langsung, memberikan suasana yang berbeda. Dengan sentuhan kasih sayang yang diberikan guru kepada anak-anak dapat memberikan semangat dan energy yang luar biasa ketika belajar di sekolah.  Seluruh masyarakat sekolah bahu-membahu untuk bekerja sama dalam  meningkatkan mutu pelayanan dan pembelajaran yang ada di sekolah. Mulai dari peran pemerintah, pemilik yayasan sekolah, kepala sekolah, guru, orangtua, siswa maupun komite sekolah. Sebagai pribadi muslim yang taat beribadah kepada Allah Subhanallahu ta’ala, hendaklah senantiasa berdoa memohon ampun dan perlindungan terhadap wabah covid 19.

 

 

 

 

 

 

 

Jumat, 05 Januari 2018

Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)



MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (MBS)
MAKALAH
DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
MANAJEMEN KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN ISLAM
SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2017/2018





Oleh :
M. Rohmad Wahyudi
NIM :
168610800016

Dosen Pembimbing :
ABDUL MAJID, M.Pd

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO
MANAJEMEN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
PROGRAM PASCASARJANA
2017


LEMBAR PENGESAHAN

Makalah ini telah disetujui dan disahkan sebagai tugas semester ganjil tahun akademik 2017/2018. Dosen pembimbing makalah Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, dan hasilnya dapat diterima

Pada tanggal
………………………………………………..
Mengesahkan
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Dosen

Abdul Majid, M.Pd








KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah Sejarah Pendidikan Islam. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad Saw, yang telah membimbing umatnya ke jalan yang benar dan diridhai-Nya.
Penyusunan makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah “Manajemen Kepemimpinan Pendidikan Islam” yang mana isinya membahas “Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)”. Tak lupa juga kami sampaikan terima kasih kepada dosen Abdul Majid, M.Pdyang telah memberikan tugas kepada kami. Dan juga kami ucapkan terima kasih kepada rekan-rekan yang telah membantu menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Kami menyadari dalam proses penyusunan makalah ini tidak lepas dari hambatan dan rintangan, yang mana banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Dan kami menyadari juga, keterbatasan-keterbatasan yang kami miliki. Kami mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan makalah ini.
Syukran katsiir, semoga kebaikan ini selalu mendapat balasan amal shalih dan diridhai Allah SWT. Semoga makalah ini dicatat sebagai suatu amal ibadah dan bermanfaat.

Sidoarjo, Desember 2017
Penyusun



DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . i
LEMBAR PENGESAHAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . ii
KATA PENGANTAR . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . .  . . . .  . . .  . . . . . . .iii
DAFTAR ISI . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .iv
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah. . . . . . . . . . . .  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 5
B.     Rumusan Masalah. . . . . . . . . . . . . . .  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .6

BAB II PEMBAHASAN
A.    Pengertian Mutu Pendidikan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 7
a.       Konsep dasar MBS . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  . . . . . . . 7
b.      Prinsip utama pelaksanaan MBS . . .  . . . . . . . . .  . . . . . . . . . . . . . . 9
c.       Ciri-ciri MBS . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 9
d.      Peran orag tua dan masyarakat . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  . 11
e.       Implementasi MBS . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 11
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan . . . . . . . .. . . . . . . . . .. . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . .13
B.     Saran . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . .  . . .. . . . . . . . .13
DAFTAR PUSTAKA







BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Dalam lembaga pendidikan tentunya dibutuhkan kemanirian dalam mengatur dan mengelola sekolahnya. Biasanya dikenal dengan istilah MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). Manajemen berbasis sekolah adalah “pengkoordinasian dan penyerasian sumber daya yang dilakukan secara otomatis (mandiri) oleh sekolah melalui sejumlah input manajemen untuk mencapai tujuan sekolah dalam kerangka pendidikan nasional, dengan melibatkan semua kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan”.[1]
Karena pada dasarnya model pendidikan setiap tahun berubah. Hal ini berkaitan dengan adanya arus globalisasi yang harus mengikuti perkembangan zaman. Apabila pendidikan tersebut berjalan ditempat, tentunya akan jauh tertinggal dengan model pendidikan baik. Keberhasilan pendidikan tak lepas dari kerja sama dari para pelaku pendidikan. Banyak hal yang harus diperhatikan bersama mengenai pendidikan itu sendiri.
Tujuan pendidikan pada tiap-tiap lembaga pendidikan tentunya diperlukan komitmen dan kerja sama yang baik. Baik itu dari kebijakan lembaga itu sendiri dan kebijakan pemerintah. Pendidikan yang bermutu tentunya akan menghasilkan output yang dibutuhkan masyarakat. Proses
Menurut Myer dan Stinehill (1993) yang dikutip oleh Taufiqurrahman, Mendefinisikan MPBS “sebagai suatu strategi untuk memperbaiki pendidikan dengan cara mengalihkan wewenang pengambilan keputusan-keputusan signifikan dari pejabat state dan district kepada masing-masing sekolah”.[2]
Dengan demikian tiap-tiap sekolah yang menerapkan MBS berusaha memperbaiki pendidikan. Baik yang menyangkut permasalahan kurikulum, keuangan ataupun peningkatan profesionalisme guru di lembaga pendidikan tersebut.
Akan tetapi ada juga sekolah yang menerapkan MBS, namun memiliki kendala. Baik itu sarana dan prasarana yang belum lengkap maupun tenaga pendidikan yang belum siap.

B.     Latar Belakang Masalah
Rumusan masalah merupakan kesenjangan antara yang diharapkan dengan yang terjadi, sedangkan rumusan masalah adalah suatu pertanyaan yang akan dicarikan jawaban melalui pengumpulan data.[3] Dalam pembahasan makalah ini ada beberapa hal yang dibahas antara lain :
1.      Bagaimana Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang baik ?



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
Manajemen berbasis sekolah merupakan istilah yang berasal dari tiga kata yaitu : manajemen, berbasis, dan sekolah. Masing-masing mepunyai arti pertama, manajemen adalah “pengkoordinasian dan penyerasian sumber daya melalui sejumlah input manajemen untuk mencapai tujuan atau untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, kedua, berbasis adalah berdasarkan pada atau berfokus pada, ketiga, sekolah adalah suatu organisasi terbawah dalam jajaran Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) yang bertugas memberikan ‘bekal kemampuan dasar’ kepada peserta didik atas dasar ketentuan-ketentuan yang bersifat legalistik (makro, meso, mikro) dan profesionalistik.[4]
Dalam lembaga pendidikan, tentunya pihak sekolah mempunyai kewenangan secara mandiri dalam mengatur dan mengelola sekolah. Kebutuhan pasar dalam memenuhi pendidikan tentunya juga beragam. Di samping itu pula, tetap pada jalurnya yakni mengikuti aturan dari pemerintahan setempat dalam mengatur dan mengelola sesuai dengan maksud dan tujuan dari pada sekolah tersebut.
a.      Konsep dasar MBS
1.      Tujuan manajemen berbasis sekolah
Secara umum dan menyeluruh MBS bertujuan untuk :
menjadikan sekolah mampu mandiri dalam segala aspek mamajemen pendidikannya sehingga sekolah dapat menentukan arah pengembangan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan objektif masyarakat. Oleh karena itu program-program pembelajaran yang disajikan sekolah harus relevan dengan kebutuhan masyarakat sehingga masyarakat dapat terlibat, ikut ber-peranserta, dan mendukung kegiatan dan proses pendidikan dalam sekolah. Hubungan yang harmonis antara sekolah dan masyarakat merupakan jalinan yang harus senantiasa dibina agar produk (outcomes) pendidikan tidak lagi asing dari masyarakat lingkungannya.[5]
2.      Karakteristik ciri-ciri manajemen berbasis sekolah
Manajemen berbasis sekolah memiliki karakteristik yang harus dipahami oleh sekolah yang akan menerapkannya untuk memperjelas karakteristik  MBS. Maka pendekatan sistem input–proses-output akan digunakan.
a)      Output.
Pendekatan yang pertama  yaitu output  karena  output akan digunakan pendekatan yang pertama yaitu output karena output memiliki tingkat  kepentingan tertinggi. “Output adalah kinerja sekolah. Kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan dari proses sekolah”.[6] Output bisanya dibagi dalam dua kategori yaitu academik achievement dan non academic achievement.
b)      Proses
Menurut Umaedi pada proses  yang kedua, ada beberapa kategori yang harus diperhatikan diantaranya efektifitas proses belajar mengajar, kepemimpinan sekolah yang kuat, pengolahan yang efektif tenaga pendidikan, sekolah memiliki budaya mutu,  sekolah memiliki team work yang kompak, cerdas dan dinamis, sekolah memiliki kewenangan (kemandirian) dan (tranparansi), manajemen sekolah memiliki kemauan untuk berubah, sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan, sekolah responsive dan antisipatif terhadap kebutuhan dan sekolah memiliki akuntabilitas dan sustainabilitas.[7] 
c)      Input kependidikan
Menurut Umaedi bagian-bagian yang penting dalam input diantaranya yaitu sekolah harus memiliki kebijakan mutu, sumber daya yang tersedia, harapan prestasi yang tinggi, fokus pada pelanggan (khususnya peserta didik), input manajemen.

b.      Prinsip utama pelaksanaan MBS ada lima (5) hal yaitu :
1)      Fokus pada mutu
2)      Bottom-up planning and decision making
3)      Manajemen yang transparan
4)      Pemberdayaan masyarakat
5)      Peningkatan mutu secara berkelanjutan

c.       Ciri-ciri MBS
1)      Organisasi sekolah
a) Menyediakan manajemen organisasi kepemimpinan transformatif dalam mencapai tujuan sekolah
b) Menyusun rencana sekolah dan merumuskan kebijakan untuk sekolahnya sendiri
c)   Mengelola kegiatan operasional sekolah
d) Menjamin adanya komunikasi yang efektif antara sekolah dan masyarakat terkait (school community)
e) Menjamin akan terpeliharanya sekolah yang bertanggung jawab (akuntabek kepada masyarakat  dan pemerintah).
2) Proses belajar-mengajar
a)   Meningkatkan kualitas belajar siswa
b)  Mengembangkan kurikulum yang cocok dan tanggap terhadap kebutuhan siswa dan masyarakat sekolah
c)   Menyelenggarakan pengajaran yang efektif
d)     Menyediakan program pengembangan yang diperlukan siswa
e)      Program pengembangan yang diperlukan siswa

3)      Sumber daya manusia :
a)  Memberdayakan sifat dan menempatkan periode yang dapat melayani keperluan semua siswa
b)    Memilih staf yang memiliki wawasan bermanajemen berbasis sekolah
c)      Menyediakan kegiatan untuk pengembangan proses pada semua staf
d)     Menjamin kesejahteraan staf dan siswa
e)      Kesejahteraan staf dan siswa


4)     Sumber daya dan administrator
a)      Mengidentifikasi sumber daya yang diperlukan dan mengalokasikan sumber daya tersebut sesuai dengan kebutuhan
b)      Mengelola dana sekolah
c)      Menyediakan dukungan administratif
d)     Mengelola dan memelihara  gedung dan sarana lainnya
e)      Memelihara gedung dan sarana lainnya.[8]

d.        Peran orang tua dan masyarakat
“Dalam MBS menuntut peran aktif orang tua dan masyarakat agar mereka merasa memiliki sekolah dan juga bertanggung jawab atas keberhasilan sekolah. Melalui dewan sekolah (school council) orang tua dan masyarakat dapat berpartisipasi dalam pembuatan berbagai keputusan.”[9] Supaya tidak terdapat tumpang tindih dalam pengelolalan sekolah antara orang tua, sekolah dan masyarakat. Maka pemerintah harus membuat pedoman bentuk partisipasi masyarakat.
Menurut Wayan Koster dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan menyebutkan 9 indikator partisipasi masyarakat.
a)   Partisipasi dalam ikut menentukan kebijakan dan program sekolah
b)   Partisipasi dalam ikut mengawasi pelaksanaan kebijakan kebijakan program sekolah
c)   Partisipasi dalam pertemuan rutin sekolah
d)   Partisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler
e)   Partisipasi dalam pengawasan mutu sekolah
f)    Partisipasi dalam pertemuan BP3
g)   Partisipasi dalam membiayai pendidikan
h)   Partisipasi dalam menyumbangkan iklim sekolah
i)    Partisipasi dalam pengembangan sarana dan prasarana fisik sekolah.[10]

e. Implementasi MBS
a.)       Strategi Implementasi MBS
Supaya implementasi MBS berlangsung dengan baik harus didukung pula dengan tenaga pengajar yang profesioanal. Lembaga sekolah yang memadai, sarana dan prasarana yang cukup dan tak kalah pentingnya adalah masalah dana dan peran aktif orang tua. Namun akibat krisis yang dialami bangsa kita telah membawa sedikit banyak kerugian bagi dunia pendidikan. Dilihat dari peserta didik dari tahun ke tahun yang selalu menurun, peran aktif dari  masyarakat juga menurun karena mereka lebih memprioritaskan pikiran dan tenaga serta uang mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Karena sekolah yang bervariasi mulai dari bentuk fisik sekolah yang bagus hingga yang tidak layak pakai, ada sekolah yang lokasinya di tengah kota sampai sekolah yang letaknya terpencil. Pada suatu kondisi dimana sekolah mendapat dukungan aktif dari masyarakat sampai yang kurang bahkan tidak mendapat dukungan aktif dari masyarakat. Untuk itu dalam implementasi MBS sekolah harus dikelompok-kelompokkan menurut kemampuan manajemen masing-masing. Pengelompokan ini bukan dimaksud untuk membedakan tetapi agar pihak-pihak terkait lebih mudah memberikan dukungan.Pembahasan implementasisebagai suatu paradigma baru, selain perlu mempertahankan kondisi sekolah, implementasi MBS juga memerlukan  pentahapan yang tepat adapun tahap-tahap yang dilaksanakan yaitu :
a)      Mensosialisasikan konsep MBS ke seluruh warga sekolah
b)      Melakukan analisis situasi sasaran (out put)
c)      Merumuskan sasaran
(1)   Visi
(2)   Misi
(3)   Tujuan
(4)   Sasaran
d)     Melakukan analisis SWOT
e)      Menyusun rencana peningkatan mutu
f)       Melakukan  evaluasi pelaksanaan
g)      Merumuskan sasaran mutu baru.

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Oleh karena itu, secara umum manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah dapat diartikan pengkoordinasikan secara mandiri oleh sekolah tersebut. Dengan melibatkan beberapa orang pemangku kepentingan pendidikan sekolah. Secara langsung dalam proses pengamblan keputusan tetap dalam pengawasan menteri pendidikn. Kebutuhan sekolah tetap diprioritaskan dan tetap dalam fokus tujuan dari pada pendidikan sekolah.
Jadi, setiap pendidikan pada dasarnya boleh menerapkan MBS. Tentunya tetap pada acuan dari Departemen Pendidikan Pusat dalam mengatur dan mengelola pendidikan tersebut. Manajemen berbasis sekolah adalah hak dan kewenangan dalam lingkup kurikulum, keuangan maupun peningkatan guru agar lebih professional.
B.     Saran
Bagi para pemangku pendidikan bisa menjalankan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dengan sebaik-baiknya untuk menjadikan sekolah tersebut lebih baik dan bermutu. Dan yang paling penting tetap pada aturan-aturan yang berlaku dalam menjalankan, mengatur dan mengelola sekolah.


DAFTAR PUSTAKA


Slamet PH, Manajemen Berbasis Sekolah dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Depdiknas, Jakarta : November-2000
Taufiqurrahman, M.Pd., Manajemen Berbasis Sekolah dalam Jurnal Studi Keislaman, STAIN Pamekasan, Februari-2002

Sugiono, Metodo Penelitian Pendidikan, (Bandung; Alfabeta, 2Taufiqurrahman, M.Pd., Manajemen Berbasis Sekolah dalam Jurnal Studi Keislaman, STAIN Pamekasan, Februari-2002

E.Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah, Rosda Karya, Bandung: 2002

Wayan Koster, Restrukturisasi Penyelenggaraan Pendidikan, Jurnal Pendidikan D),
Kebudayaan, No 026 Oktober, Balitbang Depdiknas, Jakarta: 2000



[1]Slamet PH, Manajemen Berbasis Sekolah dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Depdiknas, Jakarta : November-2000, hlm. 609.
[2]Taufiqurrahman, M.Pd., Manajemen Berbasis Sekolah dalam Jurnal Studi Keislaman, STAIN Pamekasan, Februari-2002, hlm 14
[3] Sugiono, Metodo Penelitian Pendidikan, (Bandung; Alfabeta, 2008), hal.55
[4]Slamet PH, Op., Cit hal.609
[5]Taufiqurrahman, M.Pd., Manajemen Berbasis Sekolah dalam Jurnal Studi Keislaman, STAIN Pamekasan, Februari-2002, hlm 20
[6]Ibid, hal.11
[7]Ibid, hal-12-17
[8]E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah, Rosda Karya, Bandung: 2002, hlm. 30
[9]E.  Mulyasa, Op.Cit., hlm. 28
[10]Wayan Koster, Restrukturisasi Penyelenggaraan Pendidikan, Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, No 026 Oktober, Balitbang Depdiknas, Jakarta: 2000