Bagian Pertama
Pendahuluan
A.
Kekuatan
Spritualitas Mewarnai Perusahaan Jasa dan Manufaktur
Banyak diantara kita yang mempunyai
masalah, kita dihadirkan dengan masalah menjadikan diri kita dewasa untuk
berfikir.sesungguhnya spiritualitas dapat kita temuidalam semua aspek agama.
Selebihnya dalam agama Islam. Dalam kegiatan keagamaan, umat Islam senantiasa
melaksanakan ibadah lima kali dalam sehari, belum lagi ibadah-ibadah yang
sunnah lainnya. Keberhasilan pemimpin juga berpengaruh positif dalam kepemimpinannya.
Mereka juga akan melakukan hal tersebut semakin khusyuk, karena dengan
keyakinan yang mantap dan kuat kesuksesan dapat diraih dengan mendekatkan
kepada yang Maha Kuasa. Dalam sebuah organisasi perusahaan maupun manufaktur
seluruh karyawan beserta pemimpin-pemipinnya dapat di koordinasi dengan baik
untuk melakukan ibadah dengan rutin, ikhlas terbukti hasilnya akan lebih baik
dari sebelumnya.
B.
Kebutuhan Puncak
Manusia
Manusia
terdiri atas jasmani dan rohani. Kedua unsur
tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain, bagaikan dua sisi mata uang
logam. Dalam tubuh manusia atau yang disebut dengan jasmani, juga memerlukan
nutrisi yang cukup. Bilamana jasmani kita tidak mendapatkan gizi atau nutrisi
yang baik tentunya tubuh kita tidak sehat. Disamping itu juga rohani kita
memerlukan asupan nutrisi yang cukup pula. Yakni dengan ilmu agama, berbagai persoalan hidup yang datang
menghampiri kita tentunya tidak akan selesai bila kita tidak berusaha dengan
sungguh-sungguh. Bersabar juga kunci sukses yang utama dalam menjalani hidup
ini, bila hati kita menerima apapun kehendak Allah. Kesadaran manusia untuk
senantiasa mengingat sang Pencipa dan juga sering aktif berkomunikasi
dengan-Nya haruslah tetap dijaga. Beberapa orang yang berkumpul membahas
ke-Esaan Allah, tentunya mereka ini adalah kumpulan orang-orang yang shalih.
C.
Kekuatan
Spritualitas Sebagai Aset Organisasi Sukses
Sebagai
kebutuhan manusia, spiritualitas juga dapat dikembangkan dalam hal organisasi.
Karena seorang pemimpin yang berlaku adil, jujur, sabar, tolong-menolong,
rendah hati, sederhana dan senantiasa mengutamakan bawahannya. Pemimpin seperti
ini adalah tauladan yang baik untuk karyawannya, sudah jelas seorang pemimpin
itu mempunyai amanat yang besar. Sehingga betul-betul memangku jabatan tersebut
dengan sangat hati-hati. Kita tahu banyak pemimpin-pemimpin kita dari
orang-orang yang cerdas.akan tetapi ketika sudah duduk di kursi pemerintahan
mereka terseret berbagi kasus. Mereka kehilangan keseimbangan kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat
itu jauh lebih utama. Untuk itu seorang pemimpin perlu memngembangkan asset
spiritualitasnya yang sudah dicontohkan oleh Rosulullah Saw.
D. Nalar Kekuatan Spritualitas Dalam Kepemimpinan
Sukses
Dalam kesuksesan seorang pemimpin banyak kegiatan
kerohanian yang biasa mereka kerjakan. Ibadah sunnah yang dilakukanpun juga tak
kalah dengan ibadah-ibadah yang wajib. Seperti halnya shalat tahajjud,dhuha,
hajjat serta puasa senin-kamis. Kekuatan spiritualitas ini harus dibarengi
dengan ikhlas, khusyuk, istiqomah dan kesabaran. Secara nalar kesuksesan
seorang pemimpin bisa dilihat secara kasat mata, dibalik itu ada faktor
pendukung yang tak kalah penting juga. Yakni beribadah kepada Allah dengan
semata-mata mengharap ridha kepada Allah Swt semata.efek seorang pemimpin yang
dekat dekat kepada Allah membuat jiwanya tenang dalam menghadapi persolan
hidup, terpancar aura (energy) yang positif, sejuk dipandang, kata-katanya pun
berbobot. Sehingga setiap kali berucap selalu memunculkan penyegaran, nasihat
serta hikmah kepada sesame. Pemimpin yang seperti ini tidak sombong, tidak
mudah menyerah dan berani menegakkan kebenaran Allah.
Bagian
kedua
Kajian
Spiritualitas
A.
Definisi dan
Makna Spiritualitas
Spiritualitas dalam bahasa Inggris Spirituality, yang berasal dari kata spirit berarti roh atau jiwa. Berkaitan dengan ini
pemaknaan spiritualitas bermakna Tuhan dengan dengan manusia. Hubungan manusia
dengan Tuhan tentunya tak bias lepas dari ibadah seperti halnya shalat, zakat,
puasa dan haji. Dalam pandangan Islam, spiritualitas sudah tidak asing lagi
dengan Sang Illahi. Karena pada dasarnya manusia diciptakan hanya untuk
beribadah semata-mata karena Allah.
B.
Islam dan
Spiritualitas
Agama Islam adalah agama yang diturunkan Allah
kepada para nabi dan rosul-rosul Allah. Agama Islam mengajak umat manusia untuk
mengakui ke-Esaan Allah. Bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain
Allah Swt. Manusia secara fitrahnya tidak bias berpisah dengan Tuhan-Nya.
Ketika ada musibah yang melanda umat manusia, secara tidak langsung hati kecil
manusia menyebut dan merindukan Sang Pencipta-Nya.
Ketika seorang spiritualis yang dekat dengan Allah,
mereka tidak akan melewatkan waktu sedikitpun untuk tidak berkomunikasi dengan
Allah. Ketika sudah dekat dengan Allah, apapun yang diminta pasti sama Allah
akan diberi.
Namun semua itu tidak bisa diperoleh dengan mudah,
yakni haruslah cinta kepada Allah (mahabbah).
Kecintaan kepada Allah harus kita tunjukkan, yakni melalui gemar beribadah.
Kemudian (ma’rifah) artinya mengenali
Allah terlebih dahulu. Dengan demikian bila kita dekat dengan Allah, maka Allah
member janjinya bagi yang meminta pasti dikabulkan.
C.
Spiritualitas
Sebagai Kebutuhan
Manusia merupakan makhluk dualitas, artinyaberdiri di
titik antara rasional dan irasional. Disamping itu juga sangat diperlukan
keseimbangan antara keduanya. Kebutuhan spiritualitas sesungguhnya merupakan
satu hal yang ada dalam dirinya. Dan paling tidak dalam diri manusia untuk
cenderung mengakui suatu Zat Adikodrati (Zat Yang Maha Tinggi).
Dalam kehidupan sekarang ini, spiritualitas tidak
menjadi pokok perhatian dalam psikologi modern. Perubahan zaman yang semakin
menuntut manusia untuk terus maju, manakala tidak mau mengakui akan adanya
kekuatan spiritualitas. Seolah-olah hanya diakui atas keberhasilannya sendiri.
Manusia adalah khalifah di muka bumi, tentunya
segala sesuatunya akan dimintai pertanggung jawaban nantinya. Kita yakin bahwa
hidup di dunia ini hanya sekali, untuk itu kita harus senantiasa berbuat baik
antar sesama. Spiritualitas yang dilakukan seseorang dengan ikhlas akan
berpengaruh positif dalam dirinya. Spiritualitas baik dilihat dari pendekatan
apapun sebenarnya merupakan kebutuhan bagi diri manusia itu sendiri.
D.
Shalat dan Puasa
Sebagai Media Mendekatkan Diri, Komunikasi, Dzikir, Berdoa kepada Allah
Sebagai umat Islam tentunya sudah tidak asing lagi dengan
istilah shalat. Karena pada dasarnya aktifitas ini berkaitan dengan lahirian
dan batiniah. Shalat adalah ibadah yang diawali dengan takbir dan diakhiri
dengan salam. Nabi Muhammad Saw pada waktu Isra’ Mi’raj bertemu langsung dengan
Allah Swt. Dalam pertemuan tersebut nabi kita Muhammad Saw diperintahkan untuk
shalat lima kali dalam sehari. Tentunya ibadah yang sangat singkat ini, nabi
Muhammad Saw tidak menyia-nyiakan untuk berkomunikasi kepada Allah yakni
melalui shalat.
Pada waktu shalat, bacaan yang kita baca haruslah
sesuai dengan tuntunan nabi Muhammad Saw. Karena syarat diterimanya ibadah
harus sesuai dengan contoh nabi maupun para sahabatnya. Di samping itu pula
dzikir juga ta boleh tinggalkan pula, karena dengan berdzikirlah kita ingat
kepada Allah. Dzikir disini tidak hanya pada waktu shalat saja, namun bisa
dilakukan dimanapun kita berada. Dzikir kepada Allah sangatlah urgent sekali,
bayangkan saja bila kita sehari saja tidak komunikasi kepada sang kekasih
sehari saja. Tentunya kita sangat rindu sekali, apalagi kepada dzat yang
menciptakan kita.
Puasa adalah suatu bentuk amalan yang diganjar
langsung oleh Allah Swt. Puasa sendiri artinya menahan diri dari rasa lapar dan
haus. Namun yang terpenting tidak hanya itu, kita harus menahan nafsu yang mengajak kita kepada dosa. Menahan
dari pandangan syahwat, serta berbagi macam keinginan yang mengedepankan nafsu
saja. Dengan demikian nabi kita Muhammad Saw mengajarkan kepada kita untuk
gemar berpuasa, terlebih bagi kaum muda belum bias menikah, dianjurkan untuk
berpuasa sampai pemuda tersebut mampu untuk menikah.
Dan secara umum puasa diharapkan akan muncul
kedekatan antara hamba dengan sang pencipta. Puasa yang terpenting hanya
semata-mata ditujukan kepada Allah, biar Allah sajalah yang member ganjaran
bagi pelakunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar